Jakob Ingebrigtsen menandai comeback luar biasa setelah hampir satu tahun absen akibat masalah Achilles. Pelari Norwegia itu sukses mempertahankan gelar 5000 meter Eropa di Birmingham dengan kemenangan dramatis lewat sprint tajam pada lap terakhir.
Setelah berbulan-bulan berkutat dengan cedera Achilles dan menjalani operasi pada Februari, Jakob Ingebrigtsen akhirnya kembali ke lintasan dengan cara yang sulit dibayangkan lebih sempurna.
Dalam final 5000 meter di Birmingham, Senin (10/8), Ingebrigtsen tidak hanya kembali berlomba. Ia langsung menjadi juara dengan catatan 13:15.29, mengalahkan sejumlah pelari terbaik Eropa setelah menjalankan strategi balapan yang sangat sabar.
Comeback ini terasa semakin istimewa karena sebelum tiba di Alexander Stadium, Ingebrigtsen praktis tidak mengikuti perlombaan selama hampir satu tahun.
Dari Belakang, Ingebrigtsen Perlahan Memburu Barisan Depan

Pada fase awal lomba, Ingebrigtsen tidak menunjukkan tanda-tanda akan mendominasi.
Pelari berusia 25 tahun tersebut justru memilih berada di belakang kelompok. Posisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing baginya dalam nomor 5000 meter. Ingebrigtsen dikenal cukup nyaman menghindari keramaian di awal sebelum secara bertahap naik ke posisi depan ketika lomba memasuki fase menentukan.
Namun kali ini situasinya berbeda.
Setelah cedera panjang dan operasi Achilles, kondisi kebugarannya menjadi tanda tanya. Ketika ia cukup lama bertahan di bagian belakang, peluang Ingebrigtsen untuk mempertahankan gelar sempat terlihat tidak terlalu meyakinkan.
Memasuki paruh kedua lomba, ritme di depan mulai sedikit menurun dan rombongan kembali merapat.
Inilah momentum yang dimanfaatkan Ingebrigtsen.
Secara perlahan ia mulai melewati lawan-lawannya hingga kembali berada di kelompok enam besar.
Tiga Setengah Lap Tersisa, Sang Juara Mulai Menyerang

Sekitar tiga setengah lap menjelang finis, Ingebrigtsen akhirnya bergerak ke depan.
Perubahan posisi itu menjadi sinyal bahwa sang juara bertahan mulai percaya diri terhadap kondisi tubuhnya.
Dengan tiga lap tersisa, terjadi momen menarik antara Ingebrigtsen dan Jimmy Gressier, juara dunia 10.000 meter asal Prancis. Keduanya sempat saling mengulurkan tangan dan tersenyum ketika berlari berdampingan.
Tetapi suasana santai tersebut tidak berlangsung lama.
Saat lomba menyisakan 1000 meter, Gressier mengambil alih pimpinan dan intensitas perlombaan meningkat tajam.
Persaingan di dalam kelompok juga berlangsung cukup keras. Pelari Irlandia Nick Griggs bahkan kehilangan salah satu sepatunya. Meski demikian, Griggs tetap menyelesaikan lomba dan finis kedelapan.
Terjebak Menjelang Finis, Ingebrigtsen Tetap Tenang
Drama terbesar terjadi pada lap terakhir.
Gressier masih berada di depan ketika rombongan memasuki tikungan terakhir. Pelari Jerman Florian Bremm kemudian mulai meningkatkan kecepatan dan bergerak melewati Gressier.
Sementara itu, posisi Ingebrigtsen justru kurang menguntungkan.
Ia sempat tertahan di belakang beberapa pelari dengan Etienne Daguinos berada di sisi luarnya. Dalam situasi seperti ini, kesalahan menentukan jalur bisa membuat peluang kemenangan hilang dalam hitungan detik.
Namun pengalaman Ingebrigtsen berbicara.
Ia bergeser ke luar, membuka ruang hingga hampir menuju jalur ketiga, kemudian meluncurkan akselerasi terakhir.
Bremm dilewati.
Gressier juga dilewati.
Beberapa meter kemudian, Ingebrigtsen menjadi orang pertama yang melintasi garis finis.
Jakob Ingebrigtsen Menang dalam 13:15.29

Ingebrigtsen mencatat waktu 13:15.29 untuk mengamankan gelar.
Florian Bremm harus puas dengan medali perak setelah finis hanya 0,31 detik di belakangnya dengan 13:15.60.
Etienne Daguinos merebut perunggu dalam 13:16.09, sedangkan Jimmy Gressier yang cukup lama memimpin akhirnya menempati posisi keempat dengan 13:16.36.
Yang paling menarik bukan hanya waktu finis Ingebrigtsen, melainkan bagaimana ia menyelesaikan bagian akhir lomba.
Split Jakob Ingebrigtsen:
- 3000 meter terakhir: 7:43
- 1000 meter terakhir: 2:26
- 200 meter terakhir: 26,4 detik
Menutup 5000 meter dengan 200 meter dalam 26,4 detik, terutama setelah periode cedera panjang, menunjukkan bahwa kemampuan finishing Ingebrigtsen masih menjadi salah satu senjata terbesarnya.
Comeback Setelah Operasi Achilles
Kemenangan ini memiliki arti lebih besar daripada sekadar medali emas.
Ingebrigtsen mengalami persoalan Achilles yang membuatnya absen untuk waktu yang panjang sebelum akhirnya menjalani operasi pada Februari.
Bahkan keputusannya mengikuti perlombaan di Birmingham terbilang cukup dekat dengan hari pertandingan. Ia mengatakan bahwa sekitar dua minggu sebelumnya dirinya baru membayangkan bisa kembali tampil di kejuaraan tersebut.
Kondisinya kemudian terus membaik dari hari ke hari hingga akhirnya cukup untuk kembali menjadi juara.
Kemenangan Birmingham juga memperpanjang pencapaian luar biasa Ingebrigtsen di kompetisi Eropa. Ini menjadi gelar lintasan Eropa ke-15 secara beruntun baginya.
Jika memasukkan kompetisi kelompok umur, indoor, serta cross country, jumlah gelar Eropa yang telah dikoleksinya mencapai 23 gelar.
Hasil Final 5000 Meter Putra
| Posisi | Atlet | Negara | Waktu |
|---|---|---|---|
| 1 | Jakob Ingebrigtsen | Norwegia | 13:15.29 SB |
| 2 | Florian Bremm | Jerman | 13:15.60 |
| 3 | Etienne Daguinos | Prancis | 13:16.09 |
| 4 | Jimmy Gressier | Prancis | 13:16.36 |
| 5 | Magnus Tuv Myhre | Norwegia | 13:16.59 SB |
| 6 | Mahadi Abdi Ali | Belanda | 13:17.17 SB |
| 7 | Dominic Lobalu | Swiss | 13:18.24 |
| 8 | Nicholas Griggs | Irlandia | 13:21.07 |
Rekan latihan Ingebrigtsen, Magnus Tuv Myhre, berada di posisi kelima dengan 13:16.59.
Sementara Dominic Lobalu, yang sebelumnya menjadi salah satu nama yang diperhitungkan untuk memenangkan lomba, finis ketujuh setelah sempat berada di depan pada fase sebelumnya.
Bukan Sekadar Menang, Ini Pernyataan Comeback Ingebrigtsen
Ingebrigtsen mungkin belum berada pada kondisi terbaik yang selama ini membuatnya menjadi salah satu pelari jarak menengah dan jauh paling dominan di dunia.
Namun Birmingham memberi satu pesan penting: kecepatan, ketenangan taktis, dan finishing kick-nya belum hilang.
Ia tidak memenangkan lomba dengan mendominasi sejak awal. Sebaliknya, Ingebrigtsen menunggu, membaca perkembangan lomba, menjaga posisi, kemudian mengambil keputusan pada momen yang tepat.
Bagi pelari, ada pelajaran menarik dari balapan ini. Posisi di awal lomba tidak selalu menentukan hasil akhir. Kemampuan mengatur energi, membaca perubahan pace, memilih posisi, dan memiliki cadangan kecepatan untuk fase terakhir bisa menjadi pembeda.
Setelah hampir setahun tanpa balapan dan baru beberapa bulan menjalani operasi Achilles, kemenangan 5000 meter ini menjadi awal yang sangat menjanjikan bagi fase berikutnya dalam musim Jakob Ingebrigtsen.